Pemesanan : 0811-7231-093 | COD JABODETABEK, KARAWANG, MEDAN, SURABAYA, YOGYAKARTA, BANDAR LAMPUNG

Efek Samping Dari Kemoterapi dan Solusinya

Kemoterapi cukup efektif untuk penyembuhan beberapa jenis kanker. Tapi seperti pengobatan medis lainnya, kemoterapi sering menyebabkan efek samping. Efek samping kemoterapi akan berbeda untuk setiap pasien, dan tergantung dari jenis kanker, dosis, serta kesehatan tubuh.

efek samping kemoterapiMengapa kemoterapi menyebabkan efek samping?

Kemoterapi bereaksi pada sel-sel tubuh yang aktif. Sel-sel aktif adalah sel tubuh yang tumbuh dan berkembang, seperti sel kanker juga sel-sel sehat lainnya. Ini termasuk sel-sel dalam darah Anda, mulut, sistem pencernaan, dan folikel rambut. Efek samping terjadi ketika kemoterapi menimbulkan kerusakan pada sel-sel yang sehat.

Solusi untuk mengatasi efek samping kemoterapi

Dokter Anda dapat membantu mencegah atau mengobati beberapa jenis efek samping akibat kemoterapi. Mencegah dan mengobati efek samping sekarang merupakan bagian penting dari pengobatan kanker. Ini adalah bagian dari jenis perawatan yang disebut perawatan paliatif.

Selain itu dokter dan para ilmuwan bekerja terus-menerus untuk mengembangkan obat kemoterapi yang lebih sedikit efek sampingnya.

Baca Juga : Obat Herbal Kanker Hati Ampuh

Efek samping yang umum terjadi

Kelelahan. Merasa lelah hampir di sepanjang waktu adalah salah satu efek samping kemoterapi yang paling umum.

Rasa sakit. Kemoterapi kadang-kadang menyebabkan nyeri. Hal ini dapat mencakup:

  • sakit kepala
  • nyeri otot
  • Sakit perut
  • rasa sakit akibat kerusakan saraf, seperti rasa terbakar, mati rasa, atau rasa nyeri di jari tangan dan kaki

Rasa nyeri biasanya berkurang seiring waktu. Namun, pada beberapa pasien ada yang mengalami kerusakan saraf permanen, yang menyebabkan rasa sakit selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pengobatan.

Dokter dapat mengobati rasa sakit dengan:

  • Mengobati sumber rasa sakit
  • Pemberian obat penghilang rasa sakit
  • Memblokir sinyal rasa sakit dari saraf ke otak dengan perawatan tulang belakang atau pemblokiran saraf

sariawan efek samping kemoterapiSariawan dan luka pada tenggorokan. Kemoterapi dapat merusak sel-sel di dalam mulut dan tenggorokan. Hal ini menyebabkan luka yang menyakitkan, kondisi ini disebut mukositis.

Selain itu sariawan biasanya terjadi 5-14 hari setelah kemoterapi, dan bisa berkembang menjadi infeksi. Konsumsi makanan yang sehat dan menjaga mulut dan gigi tetap bersih dapat menurunkan resiko sariawan.

Diare. Beberapa jenis obat kemoterapi bisa menyebabkan diare. Mencegah diare atau mengobati diare dengan cepat akan menghindarkan Anda dari bahaya dehidrasi (kehilangan terlalu banyak cairan tubuh). Hal ini juga membantu mencegah masalah kesehatan lainnya.

Mual dan muntah. Kemoterapi dapat menyebabkan mual dan muntah. Solusi yang biasa diberikan dokter adalah dengan pemberian obat pencegah mual dan muntah sebelum dan setelah kemoterapi.

Sembelit. Kemoterapi dapat menyebabkan sembelit, karena obat kemoterapi menggangu gerakan usus sehingga sulit untuk buang air besar. Obat-obat lain, seperti obat nyeri, juga dapat menyebabkan sembelit. Solusinya dengan minum cairan yang cukup, konsumsi makanan dengan gizi seimbang, dan cukup berolahraga untuk menurunkan risiko sembelit.

Kelainan darah. Sumsum tulang Anda adalah jaringan spons dalam tulang Anda, yang membuat sel-sel darah baru. Kemoterapi mempengaruhi proses ini, sehingga pasien mungkin memiliki efek samping yakni memiliki terlalu sedikit sel darah.

Dokter akan menggunakan tes berikut untuk memeriksa kelainan darah:

  • Hitung darah lengkap (Complete blood count) – Tes ini akan menunjukkan tingkat sel darah merah (eritrosit) dan sel-sel darah putih (leukosit) dalam darah.
    • Kekurangan sel darah merah menyebabkan kondisi yang disebut anemia. Gejalanya termasuk kelelahan, pusing, dan sesak napas.
    • Kekurangan leukosit menyebabkan kondisi yang disebut leukopenia. Hal ini menimbulkan risiko terkena infeksi. Jika pasien terkena infeksi, maka dokter akan memberikan antibiotik sesegera mungkin.
  • Trombosit – Tes ini mengukur jumlah trombosit dalam darah. Trombosit adalah sel yang menghentikan pendarahan, dengan cara menyumbat pembuluh darah yang rusak dan membantu proses pembekuan darah.
    • Kekurangan trombosit menyebabkan kondisi yang disebut trombositopenia. Pasien dapat berdarah dan memar lebih mudah dari biasanya.

Pengobatan yang tepat dapat mengatasi semua kelainan darah ini, dan mencegah leukopenia untuk pasien dengan risiko tinggi.

Kerusakan sistem saraf. Beberapa jenis kemoterapi menyebabkan kerusakan saraf. Hal ini dapat menyebabkan gejala-gejala seperti:

  • Rasa geli
  • Rasa terbakar
  • Mati rasa di tangan, kaki, atau keduanya
  • Lemah otot, sakit, lelah, atau pegal
  • Kehilangan keseimbangan
  • Gemetar

Pasien juga mungkin untuk mengalami leher kaku, sakit kepala, atau masalah melihat, mendengar, berjalan secara normal. Masalah kerusakan saraf ini bisa bersifat permanen. Solusinya adalah pemberian obat kemoterapi dengan dosis yang lebih rendah.

Perubahan dalam berpikir dan daya ingat. Beberapa orang mengalami kesulitan berpikir jernih dan berkonsentrasi setelah pengobatan kemoterapi. Dokter mungkin menyebutnya sebagai perubahan kognitif atau disfungsi kognitif.

Masalah kesuburan. Kemoterapi dapat mempengaruhi kesuburan Anda. Bagi wanita adalah mempengaruhi kemampuan untuk hamil. Bagi pria kemoterapi akan mempengaruhi fungsi seksual dan sperma.

Kemoterapi dapat membahayakan janin. Hal ini terutama berlaku dalam 3 bulan pertama masa kehamilan, ketika organ masih berkembang. Jika pasien sedang hamil selama pengobatan, maka harus menggunakan kontrol kelahiran yang efektif. Jika Anda sedang hamil, beritahu dokter Anda segera sebelum menjalani kemoterapi.

Kehilangan nafsu makan. Anda mungkin makan lebih sedikit dari biasanya, tidak merasa lapar sama sekali, atau merasa kenyang setelah hanya makan sedikit. Anda juga mungkin kehilangan massa otot dan kekuatan.

Baca Juga : Pola Makan Bagi Penderita Kanker Hati

Rambut rontok. Beberapa jenis kemoterapi menyebabkan rambut rontok dari seluruh tubuh Anda. Rambut rontok biasanya dimulai setelah beberapa minggu pertama kemoterapi. Hal ini cenderung meningkat 1 sampai 2 bulan pengobatan. Dokter Anda dapat memprediksi risiko kerontokan rambut berdasarkan obat dan dosis kemoterapi yang Anda terima.

Efek samping jangka panjang. Kebanyakan efek samping hilang setelah pengobatan. Tetapi beberapa efek sampung bisa berlanjut di kemudian hari. Sebagai contoh, beberapa jenis kemoterapi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jantung, paru-paru, hati, ginjal, atau sistem reproduksi. Dan beberapa pasien mengalami masalah dengan daya berfikir, konsentrasi, dan daya ingat.

Perawatan setelah kemoterapi adalah penting

Mendapatkan perawatan setelah kemoterapi sangatlah penting. Dokter dapat membantu Anda untuk mengatasi efek samping jangka panjang dan mengawasi efek akhir. Perawatan ini disebut perawatan tindak lanjut. perawatan lanjutan ini termasuk pemeriksaan rutin fisik, tes medis, ataupun keduanya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.